02 Mei 2010

Petikan Cinta



Aku masih ingat betul kejadian tahun lalu. Di mana mata ini terasa basah setelah membaca surat yang dituliskan oleh seorang teman. Dan sekarang, aku membaca surat itu lagi. Cukup lama aku tenggelam dalam tulisan tangan itu. Entah ada angin apa dia menuliskan surat. Maklum, sekarang jamannya sudah canggih begini, tapi dia tetap mengirimi surat.

Aku ingat, biasanya kalau ada sesuatu, dia langsung menelepon meskipun cuma sebatas memberi kabar. Tetapi kali ini berbeda. Mungkin ada hal-hal khusus yang ingin disampaikannya kepadaku. Sebagai info, surat itu masih tersimpan rapi di tumpukan kertas di dalam laci meja. Lengkap dengan amplop dan juga secarik kertas berwarna pink itu.

Pelan-pelan aku buka amplop berwana putih lengkap dengan perangko di kanan atas. Kertas berwarna merah muda itu tertulis rapi dengan spidol hitam.

Kira kira begini bunyi surat itu :


"Anda tersenyum melihat orang yang anda suka, tapi mata anda akan berkaca-kaca melihat orang yang anda cinta.

Kata-katamu hanya keluar dari pikiran dengan orang yang kamu suka, tapi kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam jika berhadapan dengan orang yang kamu cinta.

Jika orang yang kau cintai menangis, engkaupun akan ikut menangis disisinya. Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga.
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga.
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, Cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu.

Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta…
Ada perasaan yang lebih mendalam.
Rasa yang tidak hilang.
Rasa yang tidak mudah berubah.
Rasa yang dapat membuatmu berkorban.
Rasa yang dapat membuatmu berkorban mau menderita untuknya. "

Aaaahh.. Pemilihan diksi yang tepat, benar-benar membuat saya tersadar. Mungkin insting dia sebagai seorang teman sangat kuat. Jadi meskipun sudah lama tidak bertegur sapa, dia tau bagaimana persaan aku waktu itu. Seandainya saja dia masih ada di sini untuk menemani kegundahan hati ini, aku akan sangat sangat bersyukur. Tapi sayangnya itu tinggal angan-angan belaka.

Malam ini, aku kembali merenungkan isi surat itu. Seandainya saja aku tahu, kalau itu akan menjadi surat terakhir yang dia tulis sendiri buat aku. Mungkin aku akan lebih sering untuk menghubunginya. Di manapun, kapan pun. Tapi yasudahlah. Tuhan punya rencana yang lebih istimewa untuk kita berdua.

Semoga saja aku tetap bisa berdiri, meskipun aku telah kehilangan 1 pegangan. Untuk kamu disana, mungkin kamu bosen denger aku ngucapin terima kasih berkali-kali karena surat ini. Tapi dari surat inilah aku belajar.
Sekali lagi, terima kasih atas suratnyaa. I love it :)

kiss.